
Kembali ke Hati : Antara Fakta dan Harapan Pendidikan
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja *)
Kemacetan yang Bermakna Kemajuan?
Setiap pagi, jalan menuju sekolah menjadi pawai kemakmuran yang semu.
Deretan motor dan mobil menyesaki jalan-jalan kecil di depan sekolah. Siswa dan guru berangkat dengan kendaraan buatan luar negeri, sementara di tangan mereka menyala ponsel mahal yang tak pernah lepas dari genggaman. Semua tampak sibuk, tergesa, dan “maju.” Tapi bila diamati lebih dalam, kemajuan itu justru menghadirkan tanda tanya besar: apakah bangsa yang mampu membeli segalanya berarti sudah berdaulat?
Kemacetan bukan sekadar soal jalan raya, tapi juga tentang cara berpikir kita yang macet: senang pada hasil instan, tapi malas membangun dari akar sendiri.
Pulsa Naik, Nilai Turun
Kini, kebutuhan akan pulsa dan kuota hampir setara dengan kebutuhan pokok.
Anak-anak lebih takut kehabisan paket data daripada kehilangan arah belajar. Internet yang mestinya membuka cakrawala pengetahuan justru kerap menjerumuskan mereka ke jurang distraksi.
Guru berusaha memanfaatkan learning platform, tapi kalah pamor dengan TikTok dan konten viral. Sementara itu, orang tua ikut gamang: mereka membiayai kuota, tapi tak tahu apa yang dikonsumsi anak.
Paradoks pun terjadi — dunia digital menyediakan pengetahuan tanpa bimbingan, kebebasan tanpa kebijaksanaan.
Kita bangga karena semua “terhubung”, tapi lupa bertanya: masihkah kita benar-benar nyambung secara manusiawi?
Antara Kemajuan dan Kehilangan
Prof. Nurcholish Madjid pernah mengingatkan, “Ilmu tanpa moral adalah buta.”
Kemajuan teknologi tanpa nilai hanyalah percepatan menuju kekosongan.
Sementara Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan bagi tumbuhnya manusia merdeka, bukan sekadar cerdas secara akademik. Namun kini, kemerdekaan belajar sering berubah menjadi kebingungan belajar.
Budayawan Emha Ainun Nadjib bahkan menulis, “Bangsa ini pandai membuat aturan, tapi malas memperbaiki perilaku.” Kita rajin menulis laporan digital, tetapi miskin teladan moral.
Sekolah memang semakin modern, tapi sering kehilangan kehangatan. Murid mengenal banyak aplikasi, namun lupa cara menyapa dengan empati.
Fakta yang Menyentak
Kita bangga dengan kurikulum baru, tapi masih terjebak dalam pola lama: ranking, target, dan angka.
Kita menanam pohon di sekolah, tapi masih membuang plastik di selokan.
Kita bicara tentang profil pelajar Pancasila, tapi lupa menjadikan guru sebagai teladan nilai-nilai itu.
Kita mencetak banyak lulusan, tapi sedikit yang mampu berpikir jernih dan bertindak jujur.
Kemajuan yang tanpa arah kini menjadi dilema bersama: teknologi meningkat, tapi kearifan menurun.
Sekolah seakan hidup di dua dunia — satu dunia yang sibuk dengan data, satu lagi yang lapar akan makna.
Menemukan Arah: Kembali ke Hati
Pendidikan seharusnya menjadi perjalanan memanusiakan manusia.
Teknologi, kurikulum, dan sistem hanyalah alat — bukan tujuan.
Guru perlu dikembalikan pada peran utamanya: penuntun nurani dan penyalur nilai. Orang tua mesti menjadi pendamping yang sadar, bukan sekadar penyedia fasilitas. Dan negara, seharusnya berhenti menjadikan pendidikan sebagai proyek berganti nama, tapi kembali pada roh: menumbuhkan jiwa bangsa.
Pendidikan sejati bukan tentang siapa yang paling cepat terkoneksi, tapi siapa yang paling sadar akan makna hidupnya.
Ia bukan tentang siapa yang paling banyak tahu, tapi siapa yang paling mau peduli.
Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk yang melelahkan ini, kita perlu berhenti sejenak — untuk mendengarkan suara nurani bangsa yang mulai serak.
Refleksi Rendra: Pertanyaan yang Belum Terjawab
Akhirnya, seperti suara penyair besar W.S. Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung, kita diajak menatap pendidikan bukan sebagai sistem, tapi sebagai cermin kemanusiaan:
“Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pengetahuan
bila terpisah dari kehidupan?”
Pertanyaan itu tak lagi sekadar puitis — tapi menjadi peringatan moral bagi kita semua:
bahwa pendidikan yang kehilangan hubungan dengan kehidupan,
adalah jagung yang kering di lumbung kemajuan,
tak tumbuh, tak hidup, dan tak memberi harapan.
Ajibarang, 27102025
*) Guru IPA SMP N 2 Ajibarang


