
Berburu Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Ramadan selalu menghadirkan harapan besar bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di antara berbagai keistimewaan bulan suci ini, terdapat satu malam yang sangat dinanti dan penuh kemuliaan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebuah gambaran betapa luar biasanya nilai ibadah yang dilakukan pada malam tersebut.
Lailatul Qadar merupakan malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pada malam penuh keberkahan ini, langit dipenuhi rahmat Allah SWT. Para malaikat turun ke bumi membawa kedamaian, doa-doa diangkat, dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya bagi hamba yang bersungguh-sungguh beribadah.
Dalam berbagai riwayat disebutkan sejumlah keutamaan Lailatul Qadar. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya melebihi ibadah selama lebih dari 83 tahun atau setara dengan seribu bulan. Malam ini juga dikenal sebagai malam penuh ampunan dan keberkahan, saat doa-doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT.
Para ulama juga menyebutkan beberapa tanda atau ciri-ciri Lailatul Qadar. Malamnya terasa sangat tenang dan menenangkan, udara sejuk, tidak terlalu panas maupun dingin, serta langit tampak cerah. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya lembut tanpa sinar yang menyilaukan.
Karena keistimewaannya yang luar biasa, umat Muslim dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Kesempatan ini menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Doa atau niat sebelum berangkat i'tikaf di masjid adalah Nawaitul i'tikafa fii haadzal masjidi lillaahi ta'aalaa (Aku berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah Ta'ala). Niat ini dibaca saat akan memulai ibadah di masjid.
Beberapa amalan yang dianjurkan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar antara lain meningkatkan i’tikaf atau berdiam diri di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan, memperbanyak salat malam seperti tahajud dan tarawih, membaca serta mentadabburi Al-Qur’an, berdzikir, dan memperbanyak doa.
Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam tersebut adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ:
"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni"
Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.
Banyak ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar berpotensi besar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan kemungkinan yang sering disebut berada pada malam ke-27. Meski demikian, hikmahnya adalah agar umat Muslim tetap bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.
Bagi masyarakat yang ingin memperdalam pemahaman tentang kemuliaan malam tersebut, Ngaji Bareng PGRI Kabupaten Banyumas kembali menghadirkan kajian Ramadan yang inspiratif.
Pada Hari ke-22 Ramadan, kajian ini akan menghadirkan PGRI Cabang Cilongok dengan tema menarik:
“Berburu High Connection: Mencari Malam Kemuliaan dengan Fokus Penuh Tanpa Gangguan Gadget.”
Host: M. Hadziq, S.Pd.I Pemateri: Ust. Sukhemi
Kajian ini mengajak umat Muslim untuk membangun kedekatan spiritual yang lebih kuat dengan Allah SWT, dengan menghadirkan ibadah yang lebih khusyuk dan bebas dari distraksi dunia digital.
Ngaji ini dapat disaksikan secara live pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 17.38 WIB melalui tautan berikut:
▶️ https://youtu.be/rUH6pdGsX3s
Mari manfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan bersama-sama berburu kemuliaan Lailatul Qadar. Semoga setiap langkah dan doa yang kita panjatkan menjadi jalan menuju ampunan dan keberkahan dari Allah SWT. ✨🌙(sunarto-12032026)

