Tanggungjawab, Cinta dan Keiklasan : Mengajar dalam Keterbatasan Cahaya

Tanggungjawab, Cinta dan Keiklasan : Mengajar dalam Keterbatasan Cahaya

Setiap pagi, guru datang lebih awal. Ia membuka pintu kelas, menyalakan kipas angin yang berderit, menghapus papan tulis yang belum sepenuhnya bersih. Tak ada kamera. Tak ada tepuk tangan. Yang ada hanya rutinitas—dan tanggung jawab yang harus ditunaikan, apa pun kondisinya.

Di sinilah pendidikan berlangsung. Bukan di pidato, bukan di dokumen kebijakan, melainkan di ruang-ruang kecil yang sering luput dari perhatian. Dan di ruang inilah satu hal penting nyaris tak pernah dicatat: motivasi guru.

Dalam narasi resmi, guru disebut ujung tombak. Istilah yang terdengar gagah, tetapi menyimpan ironi. Sebab ujung tombak itu kerap dibiarkan bekerja tanpa pelindung, tanpa perawatan, dan tanpa jeda. Motivasi guru dianggap sesuatu yang otomatis: lahir dari sumpah profesi, disempurnakan oleh keikhlasan, dan tak perlu terlalu banyak ditanya.

Padahal psikologi dasar menyatakan sebaliknya. Manusia—termasuk guru—memiliki kebutuhan untuk diakui, divalidasi, dan dihargai. Bukan dimanja, melainkan diperlakukan wajar. Ketika kebutuhan ini terus diabaikan, yang muncul bukan perlawanan terbuka, melainkan kelelahan sunyi yang perlahan mengendap.

Seorang guru honorer di sekolah pinggiran mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Ia masuk hampir setiap hari. Administrasi harus lengkap. Laporan harus rapi. Honor datang tidak menentu. Namun siswa-siswa tetap menunggu. Ia tetap mengajar, bukan karena sistem memberinya alasan kuat, melainkan karena ia tahu: jika ia berhenti peduli, tak ada banyak pilihan lain bagi murid-murid itu.

Di sekolah kecil, keterbatasan bukan wacana—ia adalah kenyataan harian. Seorang guru sejak lama ingin mengajar dengan LCD. Ia membayangkan anak-anak melihat gambar, video, dan dunia yang lebih luas dari halaman buku. Ia berharap pembelajaran bisa lebih hidup. Tahun berganti. Anggaran selalu tak cukup. LCD itu tak pernah dibeli.

Yang lebih menyakitkan, tuntutan tetap berjalan. Pembelajaran diminta inovatif. Media pembelajaran dinilai. Supervisi datang dengan indikator modern. Guru itu kembali ke papan tulis dan spidol bahkan kapur tulis, bukan karena menolak kemajuan, tetapi karena kemajuan tak pernah benar-benar sampai. Mimpi mengajar dengan LCD akhirnya ia simpan sebagai cerita yang tak perlu lagi diucapkan.

Di tempat lain, seorang guru mengajar delapan kelas. Tiga puluh dua jam tatap muka setiap minggu. Secara aturan, sah. Secara manusiawi, melelahkan. Energi habis untuk berdiri, berbicara, dan menjaga kelas tetap kondusif. Kreativitas menjadi kemewahan. Refleksi menjadi barang langka. Ketika guru terlihat datar atau cepat lelah, kesimpulan sering sederhana: motivasinya menurun. Jarang ada yang bertanya: berapa lama seseorang bisa bertahan dalam ritme seperti ini?

Di titik inilah motivasi guru sering disederhanakan menjadi persoalan moral. Guru yang masih bersemangat dipuji. Guru yang letih dicurigai kurang ikhlas. Keikhlasan, yang semestinya nilai luhur, perlahan bergeser fungsi: menjadi penutup rapat bagi persoalan struktural. Guru diminta kuat agar sistem tak perlu segera berubah.

Namun banyak guru tetap memilih melakukan yang terbaik. Mereka mengajar dengan sisa tenaga. Menjaga profesionalisme dengan fasilitas terbatas. Menyembunyikan kecewa agar kelas tetap berjalan normal. Sikap lakukan yang terbaik, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun bukan lagi slogan inspiratif, melainkan mekanisme bertahan paling rasional.

Guru-guru ini bekerja dengan apa yang dimiliki, bukan dengan apa yang seharusnya tersedia. Mereka menurunkan ekspektasi pribadi agar tidak tenggelam dalam frustrasi. Mereka menahan keinginan agar sistem tetap terlihat baik-baik saja. Di titik ini, motivasi bukan lagi soal semangat, tetapi soal martabat.

Namun refleksi pahit perlu disampaikan dengan jujur. Motivasi intrinsik guru tidak bisa terus-menerus dijadikan bantalan bagi sistem yang timpang. Ketika guru honorer terus menambal kekurangan, sekolah kecil terus diminta menyesuaikan diri tanpa alat, dan beban kerja terus ditambah tanpa jeda, yang dipertaruhkan bukan hanya mutu pembelajaran, melainkan kesehatan mental pendidiknya.

Tulisan ini tidak sedang mencari siapa yang salah. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kenyataan yang terlalu sering diterima sebagai kewajaran. Bahwa banyak guru bekerja bukan dalam kondisi ideal, melainkan dalam kondisi yang dinormalisasi. Dan ketika ketidakidealan menjadi normal, di situlah persoalan berubah dari teknis menjadi struktural.

Guru yang tetap melakukan yang terbaik hari ini bukan sedang menunggu bonus, piagam, atau panggung. Mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih mendasar: harga diri profesi. Mereka memilih tetap profesional meski sistem belum sepenuhnya adil. Hasil, bagi mereka, hanyalah efek samping.

Mungkin sudah waktunya rapor pendidikan tidak hanya menghitung angka, grafik, dan indeks. Mungkin sudah waktunya ia mencatat hal-hal yang tak nyaman: tentang guru honorer yang bertahan dalam ketidakpastian, tentang sekolah kecil yang terus diminta besar tanpa sungguh-sungguh ditumbuhkan, dan tentang LCD yang tak pernah menyala, tetapi tetap dituntut menerangi kelas.

Dan barangkali, yang paling menyedihkan bukanlah ketiadaan fasilitas, beban kerja berlebih, atau honor yang tak sepadan. Yang paling menyedihkan adalah ketika semua itu diterima sebagai takdir, lalu dibungkus dengan kata “ikhlas” agar tak perlu dipersoalkan. Di titik itulah sistem tidak sekadar lalai, tetapi belajar bersembunyi di balik ketabahan guru. Selama guru terus dipuji karena mampu bertahan dalam gelap, tanpa pernah sungguh-sungguh diterangi, pendidikan akan tetap berjalan—ya—namun dengan satu pengorbanan besar yang jarang diakui: manusia di dalamnya perlahan belajar meniadakan dirinya sendiri.

(Trisnatun, M.Pd. - Ajibarang, 29 Desember 2025

Related Posts

Komentar