Banyumas, 19 October 2026 –
PURWOKERTO – Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Kurikulum dan Bahan Ajar Muatan Lokal Bahasa Jawa pada 14–16 Oktober 2026 di Hotel Dominic Purwokerto. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembelajaran Bahasa Jawa yang kontekstual, bermakna, serta berakar pada karakter dan identitas budaya masyarakat Banyumas.
Bimtek diikuti oleh 20 orang Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Jawa. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, S.T., pada Rabu (14/10/2026).
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk bekerja bersama dalam proses pengembangan kurikulum. Menurutnya, peserta bukan sekadar mengikuti pelatihan, melainkan mengemban tanggung jawab untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan secara nyata di sekolah.
“Bahasa Jawa bukan sekadar mata pelajaran atau muatan lokal. Bahasa adalah ingatan, nilai, tata krama, cara berpikir, dan identitas masyarakat. Karena itu, penyusunan kurikulum Bahasa Jawa bagi anak-anak Banyumas harus memastikan bahwa mereka tidak merasa asing dengan bahasa yang hidup di rumah dan lingkungan masyarakatnya,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pengembangan kurikulum harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, mulai dari penetapan capaian dan tujuan pembelajaran, penyusunan alur pembelajaran, perancangan pengalaman belajar, pemilihan bahan ajar, hingga penilaian perkembangan peserta didik.
Pembelajaran Bahasa Jawa, lanjutnya, tidak boleh terlalu bertumpu pada hafalan istilah. Anak-anak perlu memperoleh kesempatan yang cukup untuk menggunakan bahasa melalui kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keberanian menggunakan bahasa menjadi bagian penting dari keberhasilan pembelajaran.
Perkuat Bahasa Jawa Banyumasan dalam Kurikulum
Dalam arah kebijakan pengembangan kurikulum, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas menekankan pentingnya harmonisasi regulasi daerah dengan kurikulum nasional yang berlaku. Hasil bimtek diharapkan menghasilkan kerangka kurikulum yang konsisten, dengan memberikan tempat yang proporsional bagi Bahasa Jawa Banyumasan sebagai kekhasan lokal Kabupaten Banyumas.
Pengembangan bahan ajar juga diarahkan agar tidak terbatas pada buku teks, tetapi memanfaatkan berbagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Pembelajaran harus dirancang secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sementara asesmen harus mampu mengukur kemampuan nyata peserta didik dalam menggunakan bahasa.
Selain itu, Kelompok Kerja Guru (KKG) dan komunitas belajar diharapkan menjadi penggerak keberlanjutan implementasi kurikulum, sehingga hasil pengembangan tidak berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar diterapkan dan terus disempurnakan dalam praktik pembelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan juga berpesan agar tim pengembang membawa pulang hasil kerja yang konkret, meliputi analisis kurikulum dan Capaian Pembelajaran (CP), rumusan Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang runtut, rancangan modul dan bahan ajar yang siap digunakan, model asesmen yang selaras dengan tujuan pembelajaran, penguatan materi Bahasa Jawa Banyumasan, serta rencana tindak lanjut yang jelas penanggung jawab dan waktu penyelesaiannya.
“Jangan sekadar mengajarkan Bahasa Jawa, buat anak berani menggunakannya. Jangan sekadar mengajarkan budaya, buat anak merasa menjadi bagian darinya. Anak Banyumas boleh melangkah sejauh-jauhnya ke dunia, tetapi jangan sampai kehilangan bahasa untuk pulang,” pesannya.
Hadirkan Narasumber Kompeten
Dalam pelaksanaan bimtek, Kepala Seksi Kurikulum SD Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas menyampaikan materi mengenai kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan kurikulum muatan lokal Bahasa Jawa.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Bambang Sulanjari, S.S., M.A., dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang membahas analisis kurikulum dan Capaian Pembelajaran muatan lokal Bahasa Jawa dengan pendekatan Bahasa Jawa Banyumasan. Materi ini menjadi landasan bagi tim dalam menyusun kurikulum yang selaras dengan ketentuan yang berlaku sekaligus mencerminkan karakteristik bahasa dan budaya lokal.
Sementara itu, Agus Setyadi, M.Pd., dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, menyampaikan materi mengenai teknik penyusunan dan pengembangan bahan ajar, mulai dari perancangan materi pembelajaran hingga pengembangannya menjadi buku yang layak digunakan oleh guru dan peserta didik.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui diskusi aktif, pertukaran gagasan, serta kerja bersama dalam menganalisis kurikulum dan merancang perangkat pembelajaran. Proses ini diharapkan mampu menghasilkan bahan ajar yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas.
Hasilkan Draf Bahan Ajar Kelas I–VI SD
Bimtek ditutup pada Jumat (16/10/2026) dengan capaian berupa hasil analisis Capaian Pembelajaran, rumusan Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran, serta draf bahan ajar muatan lokal Bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan untuk kelas I sampai dengan kelas VI sekolah dasar.
Hasil tersebut menjadi fondasi awal bagi penyempurnaan perangkat kurikulum dan bahan ajar sebelum diterapkan secara lebih luas dalam pembelajaran. Tahap selanjutnya adalah menindaklanjuti hasil pengembangan melalui penyempurnaan substansi, penelaahan kelayakan, dan penguatan implementasi bersama guru serta komunitas belajar.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas berharap pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya meningkatkan keterampilan berbahasa peserta didik, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah, memperkuat tata krama, dan menjaga keberlanjutan identitas Banyumasan di tengah perkembangan zaman.
Bahasa Jawa Banyumasan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang perlu dihidupkan dalam keseharian generasi muda. Melalui kurikulum dan bahan ajar yang tepat, anak-anak Banyumas diharapkan mampu melangkah maju tanpa kehilangan akar budaya dan bahasa daerahnya.
(Bidang Pembinaan SD - Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas)