Menu Navigasi

BERITA DINAS PENDIDIKAN

Tutor PKBM Surya Muhammadiyah Purwokerto Jemput Pembelajaran

02 September 2026
Tutor PKBM Surya Muhammadiyah Purwokerto Jemput Pembelajaran
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Publikasi Informasi Digital

Banyumas, 02 September 2026

Tak semua anak putus sekolah bisa langsung kembali ke ruang kelas. Bagi tiga bersaudara di Kelurahan Pasirmuncang, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, pembelajaran justru harus dijemput hingga ke rumah.

Sefina, 20, Selly, 17, dan Alfariz, 13, kini kembali mengikuti pendidikan kesetaraan melalui program Kejar Paket A. Ketiganya sempat berhenti sekolah sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pada Selasa (1/9), tutor dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Surya Muhammadiyah Cabang Purwokerto Barat, Yuni Safitri, mendatangi rumah mereka untuk memberikan pembelajaran.

Pembelajaran berlangsung sederhana. Buku dan alat tulis menjadi perlengkapan utama. Tidak ada ruang kelas, meja belajar berjajar, maupun papan tulis seperti di sekolah formal.

Yuni sengaja mendatangi rumah ketiga bersaudara tersebut. Sejak terdaftar sebagai peserta didik pada awal Juli 2026, mereka belum pernah mengikuti pembelajaran di lokasi PKBM di Jalan Veteran, Kelurahan Rejasari.

Padahal, jarak rumah mereka dengan PKBM relatif dekat. Kepala PKBM Surya Muhammadiyah Cabang Purwokerto Barat Hanan Wiyoko mengatakan, pembelajaran di rumah dipilih agar ketiga anak tersebut tetap memperoleh layanan pendidikan.

“Akhirnya saya meminta tutor untuk mengadakan pembelajaran di rumah mereka,” kata Hanan.

Menurut dia, pendekatan langsung diperlukan karena setiap peserta didik memiliki kondisi dan kendala berbeda. Terlebih, tujuan utama pendidikan kesetaraan adalah memastikan anak yang sempat meninggalkan sekolah tetap memiliki kesempatan belajar.

“Jangan sampai mereka sudah terdaftar, tetapi akhirnya tidak mengikuti pembelajaran,” ujarnya.

Sefina, Selly, dan Alfariz berasal dari keluarga sederhana. Ibu mereka, Yanti, 51, sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat ketiganya tidak melanjutkan sekolah. Kini, mereka kembali mendapat kesempatan menempuh pendidikan melalui jalur kesetaraan.

“Alhamdulillah sekarang bisa ikut Kejar Paket A,” kata Yanti.

Namun, proses mengejar ketertinggalan tidak mudah. Alfariz, misalnya, masih belum lancar membaca dan menulis. Karena itu, pembelajaran harus dimulai dari kemampuan dasar.

Tutor tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendampingi peserta didik membangun kembali kemampuan belajar yang sempat terputus.

Yuni mengatakan, mendatangi rumah peserta didik menjadi salah satu cara memastikan layanan pendidikan benar-benar menjangkau anak yang membutuhkan.

Pembelajaran di PKBM Surya Muhammadiyah Cabang Purwokerto Barat mulai berjalan sejak akhir Juli 2026. Sementara ketiga bersaudara tersebut telah tercatat sebagai peserta didik sejak awal Juli.

Kisah tiga bersaudara itu menjadi gambaran bahwa penanganan anak tidak sekolah (ATS) membutuhkan pendekatan yang berbeda. Sebagian anak membutuhkan akses pendidikan, sementara lainnya memerlukan pendampingan lebih dekat agar kembali belajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Sugiri mengatakan, jumlah ATS di Banyumas masih sekitar 7.000 anak. Mereka tersebar di 27 kecamatan.

Menurut Sugiri, PKBM memiliki peran penting dalam mengembalikan anak-anak yang putus sekolah ke jalur pendidikan.

“PKBM diharapkan bisa turut mengentaskan anak putus sekolah,” kata Sugiri.

Bagi Sefina, Selly, dan Alfariz, kesempatan itu kini dimulai dari rumah. Mereka kembali membuka buku dan belajar membaca serta menulis setelah pendidikan sempat terhenti. (KYAIMENTERI.ID)

Aksesibilitas
Ukuran Huruf
Mode Kontras
Suara Pembaca (TTS) Klik teks apa saja di halaman untuk mendengarkan suara pembaca setelah fitur diaktifkan.