Menu Navigasi

BERITA DINAS PENDIDIKAN

Menanamkan kepedulian lingkungan melalui pembiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari

15 September 2026
Menanamkan kepedulian lingkungan melalui pembiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Publikasi Informasi Digital

Banyumas, 15 September 2026

Membangun sekolah yang bersih tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah atau mengandalkan petugas kebersihan. Di SMP Negeri 1 Karanglewas, kebersihan dibangun sebagai budaya bersama melalui pembiasaan yang melibatkan seluruh warga sekolah, terutama peserta didik.

Bagi SMP Negeri 1 Karanglewas, kegiatan piket kelas bukan sekadar rutinitas membersihkan ruangan. Di dalamnya terdapat proses pendidikan karakter: melatih kedisiplinan, menumbuhkan tanggung jawab, membangun kepedulian, serta membiasakan peserta didik untuk peka terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu bahwa kebersihan itu penting, tetapi terbiasa melakukan sesuatu ketika melihat lingkungan yang tidak bersih.”

Prinsip sederhana inilah yang menjadi dasar penguatan budaya bersih di sekolah.

Dimulai dari Kebiasaan Kecil Setiap Pagi

Setiap pagi, siswa yang mendapatkan jadwal piket datang lebih awal untuk menyiapkan ruang kelas sebelum pembelajaran dimulai. Mereka menyapu, membersihkan ruang kelas, merapikan meja dan kursi, serta memastikan lingkungan belajar dalam keadaan bersih dan nyaman.

Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sekilas, aktivitas ini tampak sederhana. Namun, sekolah melihatnya sebagai kesempatan untuk menanamkan karakter melalui pengalaman nyata.

Anak belajar bahwa ruang kelas yang bersih bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ada tanggung jawab yang harus dilakukan oleh setiap anggota kelas. Ketika siswa melaksanakan piket sesuai jadwal, mereka belajar disiplin.

Ketika menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, mereka belajar bertanggung jawab. Ketika bekerja bersama teman, mereka belajar gotong royong. Dan ketika mereka mulai merasa tidak nyaman melihat sampah berserakan, di situlah tumbuh kepekaan terhadap lingkungan.

Sepuluh Menit Sebelum Pulang: Belajar Bertanggung Jawab atas Sampah

Budaya bersih tidak berhenti ketika pembelajaran selesai. Sepuluh menit menjelang pulang, siswa yang bertugas piket kembali melakukan pengecekan dan pembersihan kelas.

Pada saat yang sama, mereka melakukan pemilahan sampah sebelum membawanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekolah.

Dalam proses tersebut, siswa didampingi oleh petugas pelaksana sekolah. Pendampingan dilakukan agar proses pengelolaan sampah berjalan dengan baik sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai bagaimana sampah seharusnya diperlakukan.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya. Mereka mulai memahami bahwa sampah juga perlu dipilah dan dikelola.

Inilah pembelajaran karakter yang berlangsung secara alami: anak belajar bertanggung jawab terhadap sesuatu yang dihasilkannya sendiri.

Bukan Sekadar Bersih, tetapi Terawat

Sekolah juga berupaya memastikan kebersihan tidak hanya muncul sesaat, misalnya ketika akan ada penilaian atau perlombaan.

Pada setiap akhir semester, sekolah melaksanakan lomba antarkelas yang salah satu aspek penilaiannya adalah kebersihan dan kerapian kelas. Selain itu, penataan taman dan pojok baca juga menjadi bagian dari perhatian sekolah.

Lomba tersebut bukan semata-mata untuk menentukan siapa yang menjadi juara.

Lebih jauh, lomba menjadi pemantik semangat dan sarana evaluasi agar setiap kelas memiliki kepedulian untuk merawat lingkungannya secara berkelanjutan.

Dengan adanya piket harian, pembersihan menjelang pulang, serta evaluasi melalui lomba antarkelas, kebersihan diupayakan tidak bersifat insidental.

Kelas tidak dibersihkan karena akan dinilai. Kelas dirawat karena menjadi tempat belajar bersama.

Mengurangi Sampah, Bukan Hanya Membersihkannya

Salah satu tantangan dalam menjaga kebersihan sekolah adalah volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

Karena itu, SMP Negeri 1 Karanglewas tidak hanya berupaya menangani sampah setelah dihasilkan, tetapi juga mulai mengubah kebiasaan yang menjadi sumber sampah.

Sekolah mengimbau peserta didik untuk membawa piring dan gelas sendiri ketika membeli makanan atau minuman di kantin. Kantin sekolah juga diarahkan untuk tidak menggunakan plastik atau kertas sekali pakai sebagai pembungkus apabila dapat menggunakan peralatan makan yang dibawa siswa.

Pesannya sederhana:

Sampah terbaik adalah sampah yang tidak jadi kita hasilkan.

Upaya ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah sekolah secara bertahap.

Sebelumnya, pengangkutan sampah sekolah dapat dilakukan hingga tiga kali dalam satu minggu. Melalui pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai dan perubahan kebiasaan warga sekolah, sekolah berharap kebutuhan pengangkutan sampah dapat ditekan menjadi satu kali dalam seminggu.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada slogan “buanglah sampah pada tempatnya”, tetapi berkembang menjadi kesadaran untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Ketika Piket Menjadi Pendidikan Karakter

Bagi sekolah, keberhasilan program bukan hanya terlihat dari bersihnya lantai atau rapinya ruang kelas.Ukuran keberhasilannya adalah ketika terjadi perubahan perilaku pada peserta didik.

Anak yang awalnya hanya membersihkan karena mendapat jadwal piket, perlahan diharapkan memiliki kesadaran untuk membersihkan tanpa harus selalu diperintah.

Anak yang awalnya hanya membuang sampah pada tempatnya, diharapkan mulai memahami pentingnya memilah sampah.

Anak yang awalnya merasa bahwa kebersihan adalah tugas petugas sekolah, diharapkan menyadari bahwa setiap warga sekolah memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya. Pada titik inilah kegiatan piket berubah dari sekadar rutinitas menjadi proses pendidikan karakter.

Piket mengajarkan tangan untuk bekerja, tetapi sesungguhnya sekolah sedang mendidik hati untuk peduli.

Sekolah Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Pembentukan karakter membutuhkan konsistensi. Karena itu, sekolah menyadari bahwa kebiasaan yang dibangun di sekolah perlu mendapatkan penguatan dari keluarga.

Karakter mencintai kebersihan akan lebih cepat tumbuh apabila orang tua juga membangun kebiasaan serupa di rumah.

Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana seperti merapikan kamar, membersihkan rumah, membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga lingkungan sekitar rumah.

Anak akan lebih mudah memahami nilai kebersihan ketika pesan yang diterimanya di sekolah sejalan dengan apa yang dilihatnya di rumah.

Sekolah membiasakan, guru memberi teladan, anak melaksanakan, dan orang tua menguatkan.

Kolaborasi inilah yang diharapkan mampu menjadikan kebersihan sebagai karakter, bukan sekadar aturan.

Dari Kebiasaan Menjadi Budaya

Apa yang dilakukan SMP Negeri 1 Karanglewas sesungguhnya merupakan rangkaian kebiasaan sederhana:

piket pagi → menjaga kebersihan selama pembelajaran → pemilahan sampah → pembersihan sepuluh menit sebelum pulang → pendampingan pengelolaan sampah melalui kegiatan kokurikuler → lomba kebersihan dan penataan lingkungan → pengurangan sampah sekali pakai → penguatan melalui keluarga.

Semua dilakukan secara berulang dan berkesinambungan.

Dari rangkaian tersebut, sekolah berupaya membangun lingkungan belajar yang tidak hanya bersih, tetapi juga sehat, nyaman, peduli, dan berkarakter.

Keberlanjutan menjadi kunci. Sebab karakter tidak lahir dari satu kegiatan besar. Karakter tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebuah Pelajaran dari Sebatang Sapu

Pada akhirnya, pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan kegiatan yang rumit. Kadang-kadang, pendidikan karakter hadir melalui sebatang sapu, tempat sampah, piring, gelas, taman, dan pojok baca.

Ketika seorang siswa menyapu kelas, ia sedang belajar bertanggung jawab. Ketika ia memilah sampah, ia sedang belajar peduli. Ketika ia membawa piring dan gelas sendiri, ia sedang belajar mengurangi sampah. Ketika ia bekerja bersama teman menjaga kebersihan kelas, ia sedang belajar gotong royong. Dan ketika kebiasaan tersebut dibawa pulang ke rumah, pendidikan karakter telah melampaui batas ruang kelas.

SMP Negeri 1 Karanglewas percaya bahwa sekolah yang bersih bukan hanya menghasilkan lingkungan yang nyaman untuk belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi karakter peserta didik.

Karena pada akhirnya, yang ingin dibersihkan bukan hanya lingkungan sekolah, tetapi juga cara berpikir: dari “siapa yang harus membersihkan?” menjadi “apa yang bisa saya lakukan?”

Piket Hari Ini, Karakter untuk Masa Depan.

Bersih Lingkungannya. Peduli Warganya. Tumbuh Karakternya.

Penulis: DWI RIYANI DARMA SETIANINGSIH,S.Pd.,M.Pd. (Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Karanglewas)

Aksesibilitas
Ukuran Huruf
Mode Kontras
Suara Pembaca (TTS) Klik teks apa saja di halaman untuk mendengarkan suara pembaca setelah fitur diaktifkan.