Menu Navigasi

BERITA DINAS PENDIDIKAN

Hedonestina, Jangan Paksa Semar Kentut!

21 May 2026
Hedonestina, Jangan Paksa Semar Kentut!
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas | Publikasi Informasi Digital

Banyumas, 21 May 2026

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Di tanah pewayangan Hedonestina, yang katanya penuh ajaran luhur, kisah tak lagi berputar hanya tentang perang antara kebenaran melawan kejahatan. Kini kisahnya jauh lebih lucu — tapi justru karena terlalu lucu, rasanya seperti ditusuk perlahan di ulu hati.

Konon, di Hedonestina, negeri tempat para ksatria dan dewa turun tangan, kekuasaan ternyata tak jauh beda dengan sekeranjang kue basah yang dibagi‑bagikan di antara sanak saudara dan sahabat karib. Tak peduli apakah orang itu pandai memegang pedang, paham isi kitab suci, atau cuma pandai mengangguk dan memuji tuan tertinggi — yang penting masuk ke dalam lingkaran, pasti mendapat bagian yang paling besar, paling gemuk, paling berisi.

Suatu hari berhembus kabar yang membuat seisi negeri menahan napas: “Kabar gembira! Prabu akan menaikkan gaji para pendidik, para pandita, para orang bijak yang siang malam mengajarkan akal budi — naik sampai tiga ratus persen!”

Seluruh rakyat bersorak. Semar sampai meneteskan air mata bahagia, Gareng tertawa terbahak‑bahak, Petruk menari‑nari, Bagong berjingkrak kegirangan. Akhirnya, pikir mereka, orang yang benar‑benar bekerja dan berpikir mendapat penghargaan yang setimpal. Namun belum sampai sorak itu hilang, terdengar suara penjelasan yang agak tergagap dari pendamping raja:

“Eh… maaf… terbalik. Bukan para pendidik. Bukan para orang bijak. Melainkan para hakim, para penegak hukum, para penjaga keadilan. Gajinya naik tiga ratus persen lebih banyak, lengkap dengan tunjangan istana, kuda perak, kereta emas, sampai uang liburan ke kayangan. Alasannya? Supaya tak mudah disogok, supaya tak tergoda harta duniawi.”

Semar diam terpaku. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Petruk yang biasanya paling lantang bicara, tiba‑tiba terbungkam. Gareng menggeleng pelan. Bagong hanya bergumam pelan: “Kalau begitu, berapa banyak uang yang harus diberi supaya mereka benar‑benar tak tergoda? Sampai kapan pun takkan pernah cukup, kalau hatinya memang sudah terbiasa lapar.”

Dan benar saja, tak lama kemudian terlihat jelas bagaimana cara mereka bekerja. Di balik tembok istana yang megah, mereka duduk melingkar di meja bundar yang dipenuhi hidangan mewah. Bukan sekadar makan bersama — mereka sedang memotong‑motong harta negeri seolah itu kue buatan istri sendiri.

“Bagian ini untukmu, karena kau yang mengurus izin,” ujar seorang hakim sambil menyodorkan bungkusan tebal.

“Bagian ini untukmu, karena kau yang menutupi laporan,” jawab yang lain sambil tertawa kecil.

“Bagian ini untukku, karena akulah yang memutuskan hukumnya,” tambah yang ketiga.

Saling menolong, saling menguatkan, saling menutupi — bukan dalam kebaikan, melainkan dalam kerakusan yang begitu rapi tersusun.

Yang paling membuat dada sesak? Semua itu dilakukan sambil berselimut kesalehan. Sebelum memotong bagian terbesar, mereka berdoa paling panjang, paling khusyuk, paling menyentuh hati. Zikirnya bergema sampai ke luar gerbang istana. “Semoga ini menjadi berkat,” kata mereka. “Semoga Tuhan meridhoi usaha kami,” tambah mereka. Seolah‑olah memakan hak rakyat yang lapar itu adalah ibadah paling utama, seolah‑olah merampas nasib orang kecil itu adalah amal kebajikan yang dicatat malaikat.

Di sudut lain negeri, tinggal para pendidik yang suaranya makin parau mengajar, para petani yang tangannya makin kapalan membajak, para tabib yang bekerja sampai larut malam, dan para pemikir yang ilmunya benar, nalarnya tajam, tulisannya bisa menyelamatkan negeri dari kehancuran. Mereka datang menghadap, membawa gagasan, membawa nasihat, membawa kebenaran yang tak terbantahkan. Namun apa jawaban dari meja bundar itu?

“Terlalu tajam, menyakiti hati,” kata seorang.

“Terlalu jujur, mengganggu ketenangan,” kata yang lain.

“Terlalu pintar, tak mudah diatur,” simpulkan yang ketiga.

Maka para orang bijak itu diusir halus, pendapatnya dibuang, tulisannya dibiarkan berdebu di sudut perpustakaan. Sebab di Hedonestina, yang dicari bukanlah orang yang benar ilmunya — melainkan orang yang pandai diam, pandai memuji, pandai ikut menyantap kue tanpa banyak bertanya.

Suatu sore, Semar berjalan pelan mengelilingi halaman istana. Ia melihat para pejabat keluar dari pertemuan, wajahnya berseri‑seri, saku bajunya terlihat menggembung. Mereka berjalan tegak, pakaiannya bersih, wajahnya tampak suci — sehabis beribadah, kata orang. Namun saat mereka lewat, tercium bau yang sangat menyengat. Bukan bau dupa atau bunga melati. Melainkan bau yang sangat dikenal Semar: bau kentut.

Bukan sembarang kentut. Itu kentut yang keluar dari perut yang terlalu kenyang melahap hak orang lain. Kentut yang dibalut doa, kentut yang diselimuti jubah kesalehan, kentut yang diiringi ucapan “terima kasih ya Tuhan”. Semar tertawa sampai air matanya menetes — tapi bukan tawa gembira. Itu tawa yang sampai ke tulang sumsum, yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa perih di dada.

“Lihatlah,” kata Semar pelan kepada anak‑anaknya yang mengikuti di belakang. “Di sini, kentut yang jujur dari perut orang biasa dianggap aib besar, harus ditutup rapat‑rapat sampai wajah memerah. Tapi kentut kekuasaan yang berbau darah dan air mata rakyat? Justru diarak keliling negeri, disebut berkah, disebut kebijaksanaan, disebut perintah langit.”

Petruk bertanya, suaranya parau: “Bapak, sampai kapan negeri ini begini terus? Sampai kapan orang yang jujur kelaparan, sedangkan orang yang pandai bersandiwara kenyang meluap?”

Semar diam sejenak. Matanya menatap tajam ke arah pintu ruang sidang tempat para penegak hukum sedang bersuka ria sambil melantunkan doa. Lalu ia tersenyum tipis — senyum yang hanya dimiliki orang yang tahu rahasia terbesar dunia.

“Kalau begitu,” kata Semar perlahan, “bapak tak perlu lagi memberi nasihat, tak perlu lagi menyusun petuah luhur. Ternyata di negeri ini, yang paling dibutuhkan bukanlah kebijaksanaan, bukanlah keadilan — melainkan satu hal yang paling bapak kuasai seumur hidup: kentut.”

Belum sempat Gareng, Petruk, dan Bagong bertanya apa maksudnya, tiba‑tiba Semar berdiri tegak, menarik napas panjang sampai perutnya menggembung sebesar gendang raksasa. Ia memejamkan mata, mulutnya bergerak melafalkan mantera sakti yang tak pernah didengar siapa pun — mantera khusus untuk mengumpulkan segala bau kepalsuan, segala bau keserakahan, segala bau kemunafikan yang menebar di seisi istana.

Dan tiba‑tiba… DUAR!!!

Suara itu bukan sekadar bunyi biasa. Bukan sekadar letusan angin dari perut tua. Itu adalah Kentut Semar yang Sakti.

Buminya berguncang, tiang‑tiang istana bergoyang, jendela‑jendela kaca langsung pecah berderai. Dan yang paling hebat: baunya! Bukan bau busuk biasa, melainkan bau yang begitu jujur, begitu tajam, begitu menyadarkan — seketika menembus semua jubah halus, menembus semua doa yang dipalsukan, menembus semua senyum manis yang menyembunyikan niat jahat.

Para hakim yang tadi berwajah paling suci, seketika terhuyung‑huyung, mata terbelalak, hidung mereka tak sanggup menahan bau yang membongkar segala rahasia di dalam hati mereka. Semua harta yang disembunyikan, semua kesepakatan di balik pintu tertutup, semua pembagian kue kekuasaan yang dirahasiakan — seolah‑oleh tercium dan terbuka seketika oleh hembusan angin sakti itu.

Mereka jatuh berlutut, tak lagi sanggup berpura‑pura saleh. Mulut yang tadi lantang berdoa, kini hanya bisa ternganga tanpa suara. Sebab di hadapan Kentut Semar yang Sakti, tak ada kepura‑puraan yang bisa bertahan. Semua kedok rontok seketika.

Semar berdiri tegak, masih tersenyum. Ia menatap mereka yang kini gemetar ketakutan.

“Lihatlah,” kata Semar dengan suara yang bergema di seisi ruangan. “Kalau nasihat tak didengar, kalau kebenaran dianggap mengganggu, kalau keadilan dibeli dan dijual… maka hanya satu hal yang tak bisa disogok, tak bisa dibungkam, tak bisa dibalut kesalehan: kentut yang jujur. Ia tak berbohong, tak berpura‑pura suci — dan baunya akan selalu memberitahu dunia: siapa yang perutnya penuh dengan harta yang halal, dan siapa yang perutnya membusuk karena melahap hak orang lain.”

Petruk, Gareng, dan Bagong sampai terpaku tak berkutik. Ternyata benar apa yang orang‑orang tua katakan: di dunia ini, tak ada senjata yang lebih hebat dari kebenaran — dan tak ada kebenaran yang lebih keras, lebih nyata, lebih tak terbantahkan dibandingkan kentut Semar yang sakti.

Malam itu, seisi istana diam seribu bahasa. Tak ada lagi tawa riang, tak ada lagi doa yang terdengar megah. Hanya tersisa bau yang tak hilang‑hilang, yang terus mengingatkan: di negeri ini, kekuasaan boleh saja berkuasa, kekayaan boleh saja menumpuk, kesalehan boleh saja dipamerkan — tapi kalau sampai mencium bau kentut Semar, semua kemegahan itu ternyata tak lebih dari sekadar angin yang lewat, sama persis seperti dirinya.

Dan sampai sekarang, setiap kali ada pejabat yang mulai terlalu banyak berpura‑pura, rakyat hanya berbisik pelan: “Hati‑hati… nanti Semar kembali mengumpulkan napasnya.”

Karena satu hal yang pasti: Kentut Semar tak pernah salah sasaran — ia selalu mengenai tepat di ulu hati mereka yang paling rakus dan paling munafik.

Lucu sekali, sungguh lucu — sampai rasanya tak sanggup lagi tertawa.

 

Ajibarang, 21 Mei 2026


Aksesibilitas
Ukuran Huruf
Mode Kontras
Suara Pembaca (TTS) Klik teks apa saja di halaman untuk mendengarkan suara pembaca setelah fitur diaktifkan.