Banyumas, 22 May 2026 –
Kegiatan literasi di sekolah tidak hanya dilakukan melalui membaca buku di dalam kelas, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pengenalan budaya lokal yang sarat akan nilai pendidikan dan filosofi kehidupan. Hal inilah yang dilakukan SMP Negeri 2 Ajibarang dalam kegiatan literasi budaya yang digelar pada Selasa, 19 Mei 2026 dengan menghadirkan kesenian tradisional Begalan Banyumas.
Kegiatan yang berlangsung meriah di halaman sekolah tersebut menghadirkan tim Begalan dari Sanggar Sekar Endah Kecamatan Kembaran. Penampilan dibawakan oleh dua tokoh utama Begalan, yaitu Pak Supriyadi (Aprit) dan Pak Rudi Lukmanto (Lulu), yang sukses menghibur sekaligus memberikan pembelajaran bermakna kepada seluruh peserta didik dan guru.
Begalan merupakan salah satu kesenian khas Banyumas yang biasanya ditampilkan dalam prosesi pernikahan adat. Namun dalam kegiatan literasi kali ini, Begalan diperkenalkan sebagai media pembelajaran budaya dan pendidikan karakter. Melalui dialog yang jenaka, komunikatif, dan penuh makna, para siswa diajak memahami filosofi kehidupan yang terkandung dalam berbagai peralatan rumah tangga yang dibawa dalam pertunjukan.
Acara dibuka dengan iringan musik Bendrong Kulon yang disambut antusias tepuk tangan para siswa. Suasana semakin hidup ketika kedua tokoh Begalan tampil dengan gaya khas Banyumasan yang humoris dan menghibur. Dalam pertunjukan tersebut terdapat dua tokoh utama, yaitu Suraduto dan Surontani. Suraduto digambarkan sebagai pembawa pikulan dari pihak laki-laki, sedangkan Surontani bertugas meminta penjelasan mengenai berbagai perlengkapan yang dibawa.
Berbagai alat rumah tangga tradisional diperkenalkan kepada siswa, seperti pikulan, ian, ilir, centong, kusan, sapu, sorok, irus, cepon, ciri, muntu, kendhil, hingga pari. Setiap alat memiliki makna filosofi tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, pendidikan karakter, dan nilai moral.
Salah satu penjelasan yang menarik perhatian siswa adalah filosofi “kusan”. Ujung kusan yang berjumlah lima dimaknai sebagai pengingat agar manusia tidak meninggalkan sholat lima waktu. Selain itu juga mengandung pesan untuk selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati orang tua, menghormati guru, menghormati pemerintah, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Peralatan lain seperti irus juga memiliki makna mendalam, yaitu simbol bahwa guru harus bersikap adil dan tidak membeda-bedakan murid dalam memberikan ilmu pengetahuan. Sementara cepon mengajarkan pentingnya hidup hemat dan tidak boros. Melalui penjelasan tersebut, siswa tidak hanya mengenal nama alat-alat tradisional, tetapi juga memahami nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Tidak hanya menjadi tontonan, kegiatan ini juga menjadi sarana interaktif bagi siswa. Setelah pertunjukan selesai, para siswa diberikan kesempatan untuk mencoba memperagakan alat-alat Begalan serta menjelaskan kembali makna yang telah mereka simak. Antusiasme siswa terlihat jelas ketika mereka berebut menjawab pertanyaan dan mencoba menyampaikan filosofi dari peralatan yang diperkenalkan.
Kepala sekolah dan para guru berharap kegiatan literasi budaya seperti ini dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya daerah sekaligus memperkuat pendidikan karakter. Dengan mengenalkan kesenian tradisional Banyumas melalui pendekatan yang menyenangkan, siswa diharapkan mampu memahami bahwa budaya lokal bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang kaya akan nilai moral dan kearifan lokal.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 2 Ajibarang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan berakar pada budaya bangsa. Begalan tidak hanya menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan, tetapi juga menjadi tuntunan hidup bagi generasi muda dalam membangun karakter yang berakhlak, santun, dan berbudaya. (humas-smpn 2 ajibarang, editor :sunarto)